Riska Skripsi Uin


Download Riska Skripsi Uin


Preview text

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Indonesia adalah negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, maka
dapat dipastikan bahwa instrument-instrumen syariah akan berkembang di pasar modal termasuk sukuk syariah, reksadana syariah dan saham syariah untuk menambahkan modalnya. Baik di dunia internasional maupun ditingkat nasional. Instrument ini tumbuh pesat seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan instrument keuangan konvensional lainnya.2 Karena indonesia didukung oleh jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, ekonomi terbesar diantara negara muslim, pertumbuhan ekonomi tinggi, dan penetrasi keuangan syariah yang relative rendah.3 Secara umum investasi terdapat 2 pengertian antara lain investasi secara riil asset dan financial asset. Investasi riil asset yaitu investasi yang bersifat nyata seperti, tanah, bangunan, emas, dll. Sedangkan financial asset yaitu investasi yang berwujud surat berharga, pasar modal, maupun pasar uang. Pasar modal di Indonesia mengalami perkembangan yang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Masyarakat mulai mengenal berbagai instrument investasi seperti saham, sukuk, dan reksadana.4
2 Sunarsih, Potensi Obligasi Syariah Sebagai Sumber Pendanaan Jangka Menengah Dan Panjang Bagi Perusahaan Di Indonesia, (Asy-Syira’ah:Jurnal Ilmu Syariah Dan Hokum, 2008), Hal.55-83
3 Elba Damhuri,Mengukur Seberapa Besar Manfaat Sukuk, (2018, 13 November) 4 Hana Pramudiyanti, et. all, Pengaruh Variabel Makroekonomi Terhadap Pertumbuhan Sukuk Korporasi di Indonesia Tahun 2002-2018, (DINAMICA:Directory Journal of Economic) Vol. 1 No.4, 2019, Hal. 419
1

2
Pasar modal menurut Alan N Rechtschaffen merupakan tempat bertemunya pihak para investor dengan pihak yang membutuhkan dana, baik modal dalam jangka panjang maupun jangka pendek.5 Perusahaan yang membutuhkan modal berusaha menjual efek-efek di pasar modal dan para investor yang ingin membeli saham terhadap perusahaan yang menguntungkan. Sedangkan pasar modal syariah merupakan pasar modal yang menerapkan berdasarkan prinsip syariah dalam melakukan transaksi. Pasar modal syariah memiliki peran penting bagi perekonomian karena dapat mempertemukan dua belah pihak antara emiten dan investor dengan memberikan keuntungan berupa imbalan melalui investasi.6
Dasar peraturan sukuk yaitu fatwa DSN-MUI Nomor. 3/DSNMUI/IX/2002. Penerbit sukuk menggunakan akad ijarah, dana hasil penerbitan akan digunakan untuk kegiatan investasi berupa pembelian hak manfaat barang milik negara untuk disewakan kepada pemerintah serta proyek untuk disewakan kepada pemerintah.Penerbitan SBSN (Surat Berharga Syariah Negara) saat ini telah menjadi instrument pembiayaan utama dan keberadaan SBSN mengadung unsur kerjasama investasi dengan instrument pembiayaan lainnya meskipun SBSN instrument baru. Justru instrument SBSN semakin memperkuat kemampuan pemerintah dalam membiayai deficit anggarannya. Pemerintah mempunyai banyak pilihan dalam menentukan kombinasi
5 Alan N. Rechtschaffen, capital markets, Derivatives and The Law, (New York:Oxford University Press, Inc, 2009), Hal. 4
6 Andri Soemitra, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah, (Jakarta:Kencana, 2009), Hal. 102-103

3
instrument pembiayaannya sehingga pemerintah dapat mempunyai biaya utang semenimal mungkin.
Pengembangan berbagai akternatif instrument pembiayaan anggaran negara, khususnya instrument pembiayaan berdasarkan prinsip syariah guna memobilisasi dana public secara menyeluruh dilaksanakan oleh pemerintah. Instrument keuangan yang diterbitkan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah, memberikan kepastian hukum, dan akuntabel. Motivasi investor berinvestasi di pasar modal guna untuk memperoleh return, sebagai investor harus dapat mengetahui perkembangan pasar dan mendapatkan banyak informasi yang berkaitan dengan pengembangan hal tersebut, agar mendapatkan return yang optimal.
Salah satu bentuk instrument keuangan syariah yang banyak diterbitkan baik dari korporasi maupun negara adalah surat berharga berdasarkan prinsip syariah, atau secara internasional dikenal dengan istilah sukuk. Instrument keuangan syariah ini berbeda dengan surat berharga konvensional. Adapun perbedaan prinsip antara lain surat berharga syariah menggunakan konsep imbalan bukan bunga sebagaimana dikenal dalam instrument keuangan konvensional dan diperlukannya sejumlah asset yang digunakan sebagai dasar untuk melakukan transaksi dengan menggunakan akad berdasarkan prinsip syariah.7
Perkembangan sukuk korporasi dikenal sejak abad pertengahan, dimana umat islam menggunakan sukuk dalam perdagangan internasional.
7 Presiden republic Indonesia, UU 19 Tahun 2008 SBSN. Lembaga Negara Republic Indonesia Tahun 2008 Nomor 70,(2008)

4
Sukuk digunakan oleh para pedagang pada masa itu sebagai dokumen yang menunjukkan kewajiban finansial yang timbul dari usaha perdagangan dan aktivitas komersial lainnya.8 Pertumbuhan sukuk korporasi diterbitkan di pasar modal Indonesia tahun 2014 melalui PT Indosat Tbk, menerbitkan saham Rp. 110 miliar rupiah. Sukuk korporasi setiap tahunnya mengalami kenaikan, bahkan pada tahun 2021 penerbitan sukuk korporasi mengalami peningkatan yang pesat dibandingkan pada tahun sebelumnya dengan 325 penerbit sukuk korporasi senilai Rp. 34.79 triliun. Sejak PT Indosat Tbk, menerbitkan obligasi syariah pada tahun 2014 untuk menarik perhatian berbagai perusahaan lain yang melakukan pembiayaan melalui sukuk, salah satunya adalah PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk menerbitkan obligasi syariah dengan emisi Rp. 247.090 miliar pada tanggal 23 September 2021. Hal ini dapat dilihat dari data pertumbuhan dengan pesatnya pertumbuhan ekonomi syariah, sukuk dapat memberikan dampak positif bagi pelaku ekonomi Indonesia. Pertumbuhan sukuk pada tahun ke tahun juga memberikan sinyal bagus. Perkembagan sukuk tahun 2015-2021 dapat dilihat dari gambar berikut:
8 Beik, Memperkuat Peran Sukuk Negara Dalam Pembangunan Ekonomi Indonesia, AlInfaq:2011), Hal.2

5

Grafik 1.1 Perkembangan Sukuk Korporasi

700

Akumulasi

600

Jumlah

Penerbit

500

Sukuk

400

Nilai

Akumulasi

300

Penerbitan

(Rp triliun)

200 Jumlah Sukuk

100

Ouststanding

0 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021
Sumber: statistic pasar modal syariah direktorat pasar modal syariahotoritas jasa Keuangan
Berdasarkan tabel 1.1 diatas, dapat dilihat bahwa obligasi syariah

korporasi dari tahun 2015 hingga 2021, telah mengalami perkembangan besar.

Pada tahun 2015, terdapat 87 emiten yang nominal emisinya sebesar Rp 16.11

triliun. Pada tahun 2016, meningkat menjadi 102 emiten yang nominal

emisinya sebesar Rp 20.43 triliun. Pada tahun 2017, terdapat 137 emiten yang

nominal emisinya sebesar Rp. 26,39 triliun. Pada tahun 2018, jumlah emiten

obligasi syariah korporasi meningkat lagi menjadi 175, diantaranya nilai emisi

sebesar Rp. 36.12 triliun. Jumlah emiten pada tahun 2019 sukuk perusahaan

dinaikkan lagi menjadi 232 dan nilai emisinya menjadi Rp 48.24 triliun. Pada

saat yang sama, jumlah emiten obligasi syariah korporasi meningkat pada

tahun 2020 untuk 274 Rp. 30.35 triliun. Pada tahun 2021 jumlah emiten

6

obligasi syariah korporasi meningkat sebanyak 325 dengan nilai peluncuran per November Rp. 34.79 triliun.9

Dalam jumlah emisi dan nilai obligasi syariah korporasi selalu

mengalami peningkatan, tetapi secara keseluruhan pertumbuhan sukuk

korporasi sangat lamban dibandingkan dengan SBSN. Dapat dilihat

pertubuhan pada table berikut:

Grafik 1.2 Jumlah Sukuk Korporasi

68 66 64 62 60 58 56 54 52
Maret

Juni Septerber Desember

Nilai Akumulasi Penerbit

Sumber: statistic pasar modal syariah direktorat pasar modal syariah otoritas jasa keuangan
Berdasarkan tabel 1.2 di atas, menunjukkan bahwa dalam kurun satu

tahun sukuk syariah korporasi meningkat delapan kali yaitu pada bulan Maret,

Juni, September, dan Desember.

Selain itu kontribusi sukuk korporasi terhadap pasar modal Indonesia

relative kecil. Sukuk korporasi yang belum berkembang di Indonesia terdiri

dari beberapa aspek, antara lain aspek penerbit dimana belum memiliki

komitmen korporasi untuk menerbitkan sukuk sebagai sumber pendanaan

jangka panjang. Perusahaan yang belum penah menerbitkan sukuk korporasi

lebih memilih menerbitkan obligasi yang lama karena tidak mau mengambil

9 Sukuk Korporasi, dalam www.ojk.go.id, diakses 19 Desember 2021

7
risiko menerbitkan produk baru, sehingga perusahaan ingin menerbitkan obligasi lama. Selain itu, rendahnya perkembangan perusahaan terlihat dari ketidahtahuan investor tentang manfaat dan karakteristik sukuk korporasi dan investor cenderung memilih sukuk yang lebih menguntungkan tanpa mempertimbangkan aspek syariah. Dimana, masih banyak orang yang menerapkan akad ijarah dan mudharabah. Untuk saat ini sukuk korporasi masih menghadapi persaingan obligasi yang terus meningkat pesat.10
Pengembangan sukuk sebagai instrument pasar modal syariah, hal ini tidak terlepas dari situasi makroekonomi dalam negeri. Perubahan secara makroekonomi, hal ini akan berdampak pada pasar modal syariah. Jika situasi makroekonomi baik akan memberikan dampak positif terhadap kegiatan investasi di pasar modal syariah. Adapun reksadana merupakan salah satu instrument keuangan yang memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk berinvestasi di pasar modal. Reksadana adalah alat keuangan yang secara kolektif menghimpun dana dari sekelompok investor dan diinvestasikan dalam bentuk portofolio surat berharga yang hasilnya tercermin dari peningkatan nilai aktiva bersih (NAB). Dalam bentuk reksadana di Indonesia, selain reksadana konvensional ada juga reksadana syariah. Sesuai fatwa DSN No. 20/DSN.MUI/IV/2001 (DSN MUI,2001), yang menjadi acuan operasional bank dan lembaga keuangan syariah non bank, diselaskan bahwa reksadana syariah adalah reksadana operasional menurut ketentuan dan prinsip syariah dalam bentuk akad antara pemodal dengan manajer investasi maupun antara
10 Nila Dewi, Mengurai Masalah Pengembangan Sukuk Korporasi Indonesia Menggunakan Analytic Network Process, TAZKIA Islamic Finance & Business Review, Vol.6 No.2, Agustus-Desember 2011, Hal. 149-150

8

manajer investasi dengan pengguna investasi. Reksadana konvensional adalah

kumpulan danadana yang berinvestasi di saham, obligasi, deposito, dan pasar

uang. Oleh karena itu, reksadana syariah dan konvensional menjadi pilihan masyarakat untuk melakukan investasi keuangan yang menguntungkan.11

Menurut Otoritas Jasa Keuangan, reksadana syariah mengalami

perkembangan positif dari 2017-2021 dan keberhasilan reksadana syariah

diukur dari nilai Nilai Aktiva Bersih (NAB). Perkembangan positif reksadana

syariah tercermin dari jumlah dan Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksadana

syariah yang terus meningkat. Pada akhir tahun 2017, Nilai Aktiva Bersih

(NAB) reksadana syariah tercatat sebesar Rp. 28.31 milyar dengan jumlah

reksadana syariah sebanyak 182. Pada Desember 2021 tercatat sebesar Rp. 44.04 milyar dengan jumlah reksadana syariah sebanyak 290.12 Seperti terlihat

pada table berikut ini:

Grafik 1.3 Jumlah Perkembangan Reksadana Syariah Tahun 2021

10000

8000

6000

4000 2000
0

Maret

Juni September Desember

NAB (Nilai Aktiva Bersih)

Sumber: statistic pasar modal syariah direktorat pasar modal syariah otoritas jasa keuangan

11 Husni Sabri, all et.all, Pengaruh Inflasi, BI Rate, Nilai Tukar Dan Jumlah Reksadana
Terhadap Nilai Aktiva Bersih (NAB) Reksadana Syariah Dan Konvensional Di Indonesia, tahun
2021, (Al-Mashrafiyah: Jurnal Ekonomi, Keuangan dan Perbankan Syariah), Hal. 2 12 Reksadana Syariah, dalam www.ojk.go.id, diakses 20 Desember 2021

9

Berdasarkan tabel 1.3 diatas menunjukkan bahwa dalam kurun satu

tahun reksadana syariah meningkat pada bulan Maret.

Grafik 1.4 Perkembangan Reksadana Syariah

400

350 NAB

300

Reksadana

250

Syariah

(Triliun)

200

Jumlah

Reksadaa

150

Syariah

100

50

0 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021

Sumber: statistic pasar modal syariah direktorat pasar modal syariah otoritas jasa keuangan
Berdasarkan tabel 1.4 diatas, dapat dilihat bahwa perkembangan

reksadana dari tahun 2015 hingga 2021, telah mengalami perkembangan

besar. Pada tahun 2015, terdapat 93 emiten yang nominal emisinya Rp 11.01

triliun. Pada tahun 2016, menjadi 136 emiten yang nominal emisinya Rp 14.91

triliun. Pada tahun 2017, terdapat 182 emiten yang nominal emisinya sebesar

Rp 28.31 triliun. Pada tahun 2018, jumlah emiten obligasi syariah korporasi

meningkat menjadi 224, diantaranya nilai emisi sebesar Rp 33.49 triliun.

Jumlah emiten pada tahun 2019 reksadana perusahaan dinaikkan lagi menjadi

265 dan nilai emisinya menjadi Rp 53.74 triliun. Pada saat yang sama, jumlah

emiten reksadana syariah meningkat pada tahun 2020 untuk 289 Rp. 74.37

triliun. Pada tahun 2021 jumlah emiten obligasi syariah korporasi meningkat

sebanyak 290 dengan nilai peluncuran per November Rp. 42.67 triliun. Dalam

jumlah emisi dan nilai reksadana selalu mengalami peningkatan.

10

Begitu juga dengan reksadana konvensional yang menunjukkan tren positif dalam jumlah reksadana dan Nilai Aktiva Bersih (NAB) setiap tahunnya. Tren positif reksadana konvensional tercermin dari terus meningkatnya jumlah NAB reksadana konvensional. Pada akhir tahun 2015, Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksadana konvensional tercatat sebesar Rp 998 triliun, sedangkan jumlah reksadana konvensional adalah 260 dan November pada tahun 2021 tercatat sebesar Rp. 1.905 triliun dengan jumlah reksadana konvensional 497. Seperti terlihat pada table berikut ini:

Grafik 1.5 Perkembangan Reksadana Konvensional
3000

2500 2000 1500 1000 500

Jumlah Reksadana Konvensional
NAB Reksadana Syariah (Triliun)

0 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021
Sumber: statistic pasar modal syariah direktorat pasar modal syariah otoritas jasa keuangan

Preparing to load PDF file. please wait...

0 of 0
100%
Riska Skripsi Uin