Identifikasi Bahaya Dengan Metode Hazard Identification, Risk


Download Identifikasi Bahaya Dengan Metode Hazard Identification, Risk


Preview text

View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk
JPTM. Volume 08 Nomor 01 Tahun 2019, 34-40

brought to you by CORE
provided by Jurnal Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya

IDENTIFIKASI BAHAYA DENGAN METODE HAZARD IDENTIFICATION, RISK ASSESSMENT AND RISK CONTROL (HIRARC) DALAM UPAYA MEMPERKECIL RISIKO
KECELAKAAN KERJA DI PT. PAL INDONESIA
Desy Syfa Urrohmah
S1 Pendidikan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Surabaya e-mail: [email protected]

Dyah Riandadari
Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Surabaya e-mail: [email protected]

Abstrak
PT. PAL Indonesia adalah perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi perkapalan. Kegiatan utamanya adalah memproduksi kapal perang dan kapal niaga, memberikan jasa perbaikan dan pemiliharaan kapal, serta rekayasa umum dengan spesifikasi tertentu berdasarkan pesanan. Hazard Identification, Risk Assessment And Risk Control (HIRARC) merupakan salah satu cara mengidentifikasi potensi bahaya yang terdapat pada setiap jenis pekerjaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui identifikasi bahaya, penilaian risiko, dan pengendalian risiko dengan metode Hazard Identification, Risk Assessment And Risk Control (HIRARC) di PT. PAL Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif pendekatan kualitatif. Objek penelitian adalah pekerjaan yang berpotensi bahaya di Divisi Kapal Niaga. Teknik pengumpulan data yaitu observasi lapangan, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data secara deskriptif menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian dapat diketahui bahwa pada pekerjaan sistem instalasi pipa bahan bakar terdapat 7 aspek dengan 10 potensi bahaya, 4 kategori risiko tinggi, 2 kategori risiko sedang, 4 kategori risiko rendah. Pada pekerjaan sistem diesel generator terdapat 4 aspek dengan 7 potensi bahaya, 2 kategori risiko tinggi, 2 kategori risiko sedang, 3 kategori risiko rendah. Pada pekerjaan sistem tambat kapal terdapat 4 aspek dengan 7 potensi bahaya, 4 kategori risiko tinggi, 2 kategori risiko sedang, 1 kategori risiko rendah. Pengendalian bahaya yang diusulkan adalah melakukan sosialisasi secara rutin mengenai K3 terutama mengenai potensi bahaya dan risiko untuk mengurangi unsafe action dan unsafe condition. Untuk perlengkapan APD seharusnya disesuaikan dengan jenis pekerjaan yang dilakukan karena masih ada ketidaksesuaian dalam memakai APD. Kata Kunci : Identifikasi Bahaya, Penilaian Risiko, Pengendalian Risiko, HIRARC

Abstract
PT PAL Indonesia is a company engaged in the construction of shipping. Its main activity is the manufacture of warships and commercial ships, providing the service of repair and the ship, as well as engineering junghuhn common with certain specifications based on the order. Hazard Identification, Risk Assessment And Risk Control (HIRARC) is one of the ways to identify potential dangers in any kind of job. The purpose of this research is to know the hazard identification, risk assessment, and risk control with the method of Hazard Identification, Risk Assessment And Risk Control (HIRARC) in PT. PAL Indonesia. The research method used is descriptive qualitative approach. The object of research is the work that is potentially a hazard division Ship Commerce. Data collection techniques are field observation, interviews, and documentation. Descriptive data analysis using models, Miles and Huberman. Research results can be known that work on fuel pipeline installation system there are 7 aspects with 10 potential hazards, 4 high risk category, 2 medium risk category, 4 low risk category. On the work of the system there are 4 generator diesel with 7 aspects of the potential dangers, 2 high risk category, 2 medium risk category, 3 low risk category. On the docking system of the ship there are 4 to 7 aspects of the potential dangers, 4 high risk category, 2 medium risk category, 1 low risk category. The proposed hazard control is doing a routine about the socialization of K3 is mainly about the potential dangers and risks to reduce unsafe action and unsafe condition. For Personal Protection equipment should be tailored to the type of work being done because there is still discrepancy in wearing Personal Protection. Keywords: Identification Of Hazards, Risk Assessment, Risk Control, HIRARC

PENDAHULUAN Peran sumber daya manusia merupakan modal dasar dalam penentuan tujuan perusahaan. Tanpa peran sumber daya manusia, kegiatan dalam perusahaan tidak akan berjalan dengan baik. Manusia selalu berperan aktif dan dominan dalam setiap kegiatan

organisasi, karena manusia menjadi perencana, pelaku, dan penentu terwujudnya tujuan organisasi (Hasibuan, 2012).
Setiap perusahaan selalu mempunyai risiko terjadinya kecelakaan. Besarnya risiko yang terjadi

Identifikasi Bahaya Dengan Metode Hazard Identification, Risk Assessment And Risk Control (HIRARC)

tergantung dari jenis industri, teknologi serta upaya pengendalian risiko yang dilakukan. Kecelakaan akibat kerja adalah kecelakaan yang terjadi dikarenakan oleh pekerjaan atau pada waktu melaksanaan pekerjaan pada perusahaan. Secara garis besar kejadian kecelakaan kerja disebabkan oleh dua faktor, yaitu tindakan manusia yang tidak memenuhi keselamatan kerja (unsafe act) dan keadaan-keadaan lingkungan yang tidak aman (unsafe condition). Salah satu sistem manajemen K3 yang berlaku global atau Internasional adalah OHSAS 18001:2007. Biasanya dikenal dengan singkatan HIRARC. Hazard Identification Risk Assessment & Risk Control (HIRARC) merupakan proses mengidentifikasi bahaya yang dapat terjadi dalam aktifitas rutin ataupun non rutin dalam perusahaan, untuk selanjutnya dilakukan penilaian risiko dari bahaya tersebut. Hasil dari penilaian risiko tersebut berguna untuk membuat program pengendalian bahaya agar perusahaan dapat meminimalisir tingkat risiko yang mungkin terjadi sehingga dapat mencegah terjadinya kecelakaan kerja.
PT. PAL Indonesia merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi perkapalan. PT. PAL Indonesia (Persero) sendiri masih terjadi kecelakaan kerja mulai dari risiko rendah hingga risiko tinggi. Dalam kasus kecelakaan kerja, bagian Divisi Kapal Niaga yang sering mengalami kasus kecelakaan kerja. Tercatat dari data yang kami peroleh dari Divisi Kapal Niaga PT. PAL Indonesia (Persero), pada tahun 2015 terjadi kecelakaan kerja sebesar 44%. Pada tahun 2016 sebesar 31%. Sedangkan, pada tahun 2017 terjadi kecelakaan kerja sebesar 25%. Data kecelakaan kerja diatas menunjukkan semakin menurunnya presentase kecelakaan kerja, akan tetapi masih tetap terjadi kecelakaan kerja.
Alasan peneliti sendiri mengambil metode Hazard Identification, Risk Assessment And Risk Control (HIRARC) ialah karena tingkat kecelakaan kerja dan berbagai ancaman keselamatan dan kesehatan kerja (K3) masih cukup tinggi pada sektor industri. Keselamatan kerja dimaksudkan untuk mencegah, mengurangi, melindungi bahkan menghilangkan resiko kecelalakaan kerja (zero accident) pada tenaga kerja melalui pencegahan timbulnya kecelakaan kerja yang diakibatkan selama melakukan kegiatan. Oleh karena itu setiap perusahaan yang memiliki resiko kecelakaan kerja dapat melakukan identifikasi bahaya salah satunya dengan metode Hazard Identification, Risk Assessment And Risk Control (HIRARC).

Rumusan Masalah Rumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:  Bagaimana identifikasi bahaya dengan metode
Hazard Identification, Risk Assessment And Risk Control (HIRARC) pada Divisi Kapal Niaga di PT. PAL Indonesia ?  Bagaimana penilaian risiko dengan metode Hazard Identification, Risk Assessment And Risk Control (HIRARC) pada Divisi Kapal Niaga di PT. PAL Indonesia ?  Bagaimana pengendalian risiko dengan metode Hazard Identification, Risk Assessment And Risk Control (HIRARC) pada Divisi Kapal Niaga di PT. PAL Indonesia ?
Tujuan Penelitian Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah :  Untuk mengetahui identifikasi bahaya dengan
metode Hazard Identification, Risk Assessment And Risk Control (HIRARC) pada Divisi Kapal Niaga di PT. PAL Indonesia.  Untuk mengetahui penilaian risiko dengan metode Hazard Identification, Risk Assessment And Risk Control (HIRARC) pada Divisi Kapal Niaga di PT. PAL Indonesia.  Untuk mengetahui pengendalian risiko dengan metode Hazard Identification, Risk Assessment And Risk Control (HIRARC) pada Divisi Kapal Niaga di PT. PAL Indonesia.
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Menurut ILO/Word Health Organization (WHO) (1998) “Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah suatu promosi, perlindungan dan peningkatan derajat kesehatan yang setinggi tingginya mencakup aspek fisik, mental, dan sosial untuk kesejahteraan seluruh pekerja di semua tempat kerja.”
Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) Menurut Kepmenaker 05 Tahun (1996) “Sistem Manajemen K3 adalah bagian dari sistem manajemen secara keseluruhan yang meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur, proses, dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian, dan pemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam pengendalian risiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif”.

35

JPTM. Volume 08 Nomor 01 Tahun 2019, 34-40

Bahaya (Hazard) Menurut OHSAS 18001:2007 “Bahaya adalah sumber, situsasi atau tindakan yang berpotensi menimbulkan kerugian dalam hal luka-luka atau penyakit terhadap manusia”.
Risiko (Risk) Menurut OHSAS 18001:2007 “Risiko adalah kombinasi dari kemungkinan terjadinya kejadian berbahaya atau paparan dengan keparahan dari cidera atau gangguan kesehatan yang disebabkan oleh kejadian atau paparan tersebut”.
HIRARC (Hazard Identification, Risk Assesment and Risk Control) Menurut Ramli (2010) “HIRARC adalah serangkaian proses mengidentifikasi bahaya yang dapat terjadi dalam aktifitas rutin ataupun non rutin di perusahaan kemudian melakukan penilaian risiko dari bahaya tersebut lalu membuat program pengendalian bahaya tersebut agar dapat diminimalisir tingkat risikonya ke yang lebih rendah dengan tujuan mencegah terjadi kecelakaan”.
Identifikasi Bahaya (Hazard Identification) Menurut Ramli (2010) “Identifikasi bahaya adalah upaya sistematis untuk mengetahui adanya bahaya dalam aktivitas organisasi”. Setiap tempat kerja yang melaksanakan identifikasi risiko dari setiap persitiwa lalu dilakukan petimbangan kondisi dalam menentukan risiko adalah sebagai berikut:  Kondisi operasi normal (N) : Pekerjaan sehari-hari
dan sesuai prosedur  Kondisi operasi abnormal (A) : Pekerjaan diluar
prosedur  Kondisi darurat (E) : Keadaan yang sulit
dikendalikan
Penilaian Risiko (Risk Assessment) Menurut Ramli (2010) Penilaian risiko adalah upaya untuk menghitung besarnya suatu risiko dan menetapkan apakah risiko tersebut dapat diterima atau tidak. Penilaian risiko digunakan untuk menentukan tingkat risiko ditinjau dari kemungkinan terjadinya (likelihood) dan keparahan yang dapat ditimbulkan (severity). Metode kualitatif menurut standar AS/NZS 4360, kemungkinan atau likelihood diberi rentang antara suatu risiko yang jarang terjadi sampai dengan risiko yang dapat terjadi setiap saat. Untuk keparahan atau severity dikategorikan antara kejadian yang tidak menimbulkan cedera atau hanya kerugian kecil yang paling parah jika dapat menimbulkan kejadian fatal

(meninggal dunia) atau kerusakan besar terhadap aset perusahaan.
Tabel 1. Ukuran Kualitatif Likelihood pada Standar AS/NZS 4360-2004
Tabel 2. Ukuran Kualitatif Severity pada Standar AS/NZS 4360-2004
Tabel 3. Skala Ukur Kemungkinan (Likelihood)
Tabel 4. Skala Ukur Tingkat Keparahan (Severity)
Peringkat Risiko Matrik risiko dimana peringkat kemungkinan dan keparahan diberi nilai 1-4. Dengan demikian, nilai risiko dapat diperoleh dengan mengalihkan antara kemungkinan dan keparahannya yaitu antara 1-16. (Ramli, 2010).
Tabel 5. Skala Risk Rating pada Standar AS/NZS 4360-2004

Identifikasi Bahaya Dengan Metode Hazard Identification, Risk Assessment And Risk Control (HIRARC)

Pengendalian Risiko (Risk Control) pengendalian risiko dilakukan terhadap seluruh bahaya yang ditemukan dalam proses identifikasi bahaya dan mempertimbangkan peringkat risiko untuk menemukan prioritas dan cara pengendaliannya. Selanjutnya, dalam menentukan pengendalian harus mempertimbangkan hirarki pengendalian mulai dari eliminasi, substitusi, pengendalian teknis, administratif dan APD.
METODE Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Penelitian bertujuan menjelaskan nilai dari risiko yang terdapat di setiap area kerja dengan menggambarkan proses analisa keselamatan kerja dengan menentukan tingkat likehood dan severity dari setiap risiko.
Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini bertempat di Divisi Kapal Niaga PT. PAL Indonesia (Persero) Jalan Ujung Surabaya pada Tahun Ajaran 2018/2019.
Objek Penelitian Objek penelitian yang diambil adalah pekerjaan di Divisi Kapal Niaga PT. PAL Indonesia (Persero) yaitu segala bentuk kegitatan yang berpotensi bahaya dan berisiko.
Rancangan Penelitian

Teknik Pengumpulan Data  Observasi  Wawancara  Dokumentasi
Analisis Data Analisis data penelitian kualitatif ini dilakukan dengan menggunakan Model Miles dan Huberman (Sugiyono, 2007). Analisis Model Miles dan Huberman terdiri atas:  Reduksi Data (Data Reduction)
Data yang diperoleh di lapangan jumlahnya cukup banyak, untuk itu maka perlu dicatat secara teliti dan rinci. Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya dan membuang yang tidak perlu.  Penyajian Data (Data Display) Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data. Dalam penelitian kuantitatif penyajian data dapat dilakukan dalam bentuk tabel, grafik, phie chart, picyogram, dan sejenisnya. Melalui penyajian data tersebut maka data terorganisasikan, tersusun dalam pola hubungan sehingga akan semakin mudah dipahami.  Kesimpulan dan Verifikasi (Conclusion and Veryifying) Langkah ketiga adalah penarikan kesimpulan. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal, didukung oleh bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.

HASIL DAN PEMBAHASAN Pada penerapan Hazard Identification, Risk Assessment, and Risk Control (HIRARC) pada kegiatan produksi Kapal Landing Platform Dock (LPD) di Divisi Kapal Niaga PT. PAL Indonesia (Persero). Ada 3 jenis pekerjaan yang menjadi fokus analisis penelitian adalah pekerjaan sistem instalasi pipa bahan bakar, sistem diesel generator, dan sistem tambat kapal.

Gambar 1. Rancangan Penelitian

Hasil Identifikasi Aspek Bahaya Identifikasi aspek pekerjaan mana yang berpotensi menimbulkan bahaya dan kecelakaan kerja yang berasal dari tempat kerja, peralatan kerja, mesin-
37

JPTM. Volume 08 Nomor 01 Tahun 2019, 34-40

mesin, dan bahan yang berhubungan dengan proses kegiatan dan kondisi untuk menghindari unsafe action dan menghilangkan unsafe condition. Data diperoleh dari hasil pengamatan langsung dan wawancara dengan pekerja terkait.
Tabel 6. Hazard Identification Sistem Instalasi Pipa Bahan Bakar

peraturan menteri tenaga kerja nomor: PER.05/MEN/1996 tentang Indicator Traffic Light System (Sistem Lampu Merah).
Tabel 9. Risk Assessment Sistem Instalasi Pipa Bahan Bakar

Tabel 7. Hazard Identification Sistem Diesel Generator

Tabel 10. Risk Assessment Sistem Diesel Generator

Tabel 8. Hazard Identification Sistem Tambat Kapal

Tabel 11. Risk Assessment Sistem Tambat Kapal

Hasil Penilaian Risiko Penilaian risiko digunakan untuk menentukan tingkat risiko ditinjau dari kemungkinan terjadinya (likelihood) dan keparahan yang dapat ditimbulkan (severity). (Ramli, 2010). Risk rating adalah nilai yang menunjukkan resiko yang ada berada pada tingkat rendah, sedang, tinggi. Penentuan besar nilai likelihood dan severity berdasarkan standar AS/NZS 4360, masing-masing risiko bahaya dilakukan dengan wawancara kepada pekerja. Dari hasil tingkat risiko (risk rating) kemudian dievaluasi untuk menentukan kriteria risiko. Indikator kriteria risiko terdapat kategori merah, kuning atau hijau mengacu pada

Hasil Pengendalian Aspek Bahaya Pencegahan atau pengendalian bahaya untuk menghindari unsafe action dan menghilangkan unsafe condition.

Identifikasi Bahaya Dengan Metode Hazard Identification, Risk Assessment And Risk Control (HIRARC)

Tabel 12. Risk Control Sistem Instalasi Pipa Bahan Bakar
Tabel 13. Risk Control Sistem Diesel Generator
Tabel 14. Risk Control Sistem Tambat Kapal

PENUTUP Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:  Hasil identifikasi bahaya dengan metode Hazard
Identification, Risk Assessment, and Risk Control (HIRARC) pada pekerjaan sistem instalasi pipa bahan bakar terdapat 7 aspek dengan 10 potensi bahaya, saat pekerjaan sistem diesel generator terdapat 4 aspek dengan 7 potensi bahaya, dan pekerjaan sistem tambat kapal terdapat 4 aspek dengan 7 potensi bahaya.  Hasil penilaian risiko dengan metode Hazard Identification, Risk Assessment And Risk Control (HIRARC) pada kegiatan sistem instalasi pipa bahan bakar terhadap bahaya kebocoran tanki penyimpanan bahan bakar diperoleh nilai 16 dan kebocoran tanki penyimpanan oli, kebocoran gas pada jaringan, kebocoran udara tekan pada jaringan pipa diperoleh nilai 12. Saat kegiatan sistem diesel generator terhadap bahaya ceceran barang/oli/bahan bakar diperoleh nilai 16 dan bahaya arus listrik, kabel lecet diperoleh nilai 12. Serta, kegiatan sistem tambat kapal terhadap bahaya benda berat, tali temali, kesalahan operator diperoleh nilai 12 dan bahaya saat kapal sandar / keluar dock diperoleh nilai 9.  Hasil pengendalian risiko dengan metode Hazard Identification, Risk Assessment And Risk Control (HIRARC) ditentukan berdasarkan kategori risiko, dimana zona merah (risiko tinggi) risiko yang ada tidak dapat diterima dan harus dilakukan tindakan pencegahan dengan menghilangkan risiko bahaya, zona kuning (risiko sedang) risiko dapat diterima apabila semua pengamanan sudah dijalankan, dan zona hijau (risiko rendah) tidak perlu dilakukan tindakan pengendalian bahaya karena risiko bahaya dapat ditoleransi namun para pekerja tetap wajib menggunakan APD.
Saran Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat diperoleh saran sebagai berikut:  Lebih meningkatkan pengawasan dalam bidang
K3 khusunya agar perusahaan dapat mencapai zero accident.  Perlu ada kajian tentang potensi bahaya dengan penerapan metode lain yang lebih berfokus pada peralatan dan mesin seperti metode Failure Mode and Effect Analysis karena bukan hanya pekerja yang dilindungi melainkan aset perusahaan juga perlu dilindungi.

39

JPTM. Volume 08 Nomor 01 Tahun 2019, 34-40

 Penerapan metode Hazard Identification, Risk Assessment, and Risk Control (HIRARC) dapat digunakan untuk mengidentifikasi bahaya yang ada pada saat mahasiswa praktek di Universitas Negeri Surabaya.
 Untuk peneliti selanjutnya, penelitian ini masih membutuhkan kajian analisis pada perhitungan risiko pada sisi finansial yang berdampak pada perusahaan dalam menentukan rating risiko.
 Semoga kedepannya PT. PAL Indonesia (Persero) dapat bekerja sama dengan Universitas Negeri Surabaya.

DAFTAR PUSTAKA
AS/NZS 4360:2004 Australian/New Standard Risk Management

Zealand

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka Cipta.

Hamali, A.Y. S.S.,M.M (2016). Pemahaman Manajemen Sumber Daya Manusia. Cetakan pertama. Penerbit: CAPS (Center for Academic Publishing Service), Yogyakarta. Halaman 162181. ISBN : (10) 602-9324-77-2.

Hasibuan, M. (2012). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Hati, S.W; Wahyuni S. (2016). “The Effect of The Application of Work Safety and Health to Awareness of SOP (Standard Operating Procedure) on Employee Bulk (Subcontractor) Contructrion in The Company XYZ Batam”. Dipersentasikan pada seminar ICAMESS 2016, 30 April 2016.

Lestari, T; Trisyulianti, E. (2009). “Hubungan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dengan Produktivitas Kerja karyawan (Studi Kasus: Bagian Pengolahan PTPN VIII Gunung Mas, Bogos)”. Jurnal Manajemen IPB. Vol. 1, No. 1, Tahun 2009, Halaman 73-79.

Nazir, Mohammad. 1988. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia

OHSAS 18001:2007. Occupational Health And Safety Management System – Requirements.

Ramli, Soehatman. 2010. Pedoman Praktis Manajemen Risiko dalam Persepektif K3 OHS Risk Management, Seri Manajemen K3 002. Dian Rakyat. Jakarta.

Ramli, Soehatman. 2010. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja OHSAS 18001, Seri Manajemen K3 001. Dian Rakyat. Jakarta.

Rudi Suardi, 2007. Manajemen Risiko – Panduan Penerapan Berdasarkan OHSAS 18001 dan Permenaker 05/1996, Jakarta: PPM.

Sugandi, Didi. 2003. Keselamatan Kerja Dan Pencegahan Kecelakaan Kerja Dalam Hieperkes Dan Keselamatan Kerja Bunga Rampai Hieperkes & KK, Edisi kedua, Semarang : Universitas Diponegoro.
Sugiyono. 2015. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D). Penerbit CV. Alfabeta: Bandung.
Suma’mur. 1981. Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan. Penerbit: CV. Haji Massagung, Jakarta.
Tim. 2014. Panduan Penulisan dan Penilaian Skripsi. Surabaya: Unesa University Press.

Preparing to load PDF file. please wait...

0 of 0
100%
Identifikasi Bahaya Dengan Metode Hazard Identification, Risk