Pengaruh Peran Gender, Masculine Dan Feminine Gender Role


Download Pengaruh Peran Gender, Masculine Dan Feminine Gender Role


Preview text

IJWS - Vol. 4, No. 1 (2016)

E-ISSN : 2338-1779 http://ijws.ub.ac.id

Pengaruh Peran Gender, Masculine Dan Feminine Gender Role Stress Pada Tenaga Administrasi Universitas Brawijaya
Tulus Sabrina1*, Retty Ratnawati2, Endah Setyowati3
1Program Studi Kajian Wanita Universitas Brawijaya Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dan menganalisis pengaruh peran gender, Masculine dan Feminine Gender Role Stress terhadpa komitmen kerja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitaif, dengan teknik sampling purposive. Responden penelitiaan adalah tenaga adminitrasi Universitas Brawijaya sebanyak 96 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Analisis penelitian ini menggunakan uji signifikansi parameter duga secara simultan (Uji F) dan Uji signifikansi parameter duga secara parsial (Uji t). Hasil dari penguruan peran gender menunjukkan reponden laki-laki dan perempuan cenderung memiliki peran gender feminin. Hasil uji F menunjukkan ada pengaruh peran gender, Masculine Gender Role Stress (MGRS), Feminine Gender Role Stress (FGRS) secara bersama-sama mterhadapa komitmen kerja secara signifikan pada responden laki-laki, (F hitung > F tabel) F hitung 4,435 < F tabel 2,811, serta besar pengaruh 22,8%. Sedangkan Sig.F 0,008 < 0,05. Namun hasil pada responden perempempuan pada uji F, tidak menunjukkan hasil signifikan, karena (F hitung < F tabel) F hitung 1,438 < F tabel 2,822, dengan besar pengaruh sebesar 9,1%. Dari hasil uji t, hasil signifikan hanya ditinjukkan dari pengaruh peran gender terhadap komitmen kerja (sign. 0,326) pada responden laki-laki. Sedangkan hasil uji MGRS sera FGRS terhadap komitmen kerja baik pada responden laki-laki dan perempuan tidak menunjukkan hasil signifikan. Meskipun demikian dari pengukuran MGRS dan FGRS menunjukkan adanya indikasi stres pada responden laki-laki dan perempuan. Dengan kata lain, stereotip maskulin dan feminin merupakan salah satu sumber stres dan masalah pada responden laki-laki maupun perempuan.

Kata kunci: peran gender, maskulin, feminin, stress, komitmen kerja.

Abstract This study aims to explain and analyze the influence of gender roles, Masculine and Feminine Gender Role Stress against work commitment. This research uses quantitative approach, with purposive sampling technique. The respondents were UB's administrative staff of 96 respondents. The data were collected by using questionnaires. The analysis of this study used the simultaneous significance test (F test) and Partial significance test (t test). The results of gender role deception show that male and female respondents tend to have a feminine gender role. The result of F test shows that there is influence of gender role, Masculine Gender Role Stress (MGRS), Feminine Gender Role Stress (FGRS) together with significant work commitment on male respondent, (F count> F table) F arithmetic 4,435 < F table 2,811, and big influence 22,8%. While Sig.F 0,008 <0,05. However, the results of the female respondents in the F test did not show significant results, because (F arithmetic
Key word : gender role, masculine, feminine, stres, occupational commitment.

PENDAHULUAN Isu tentang gender sudah menjadi bahasan
pokok dan topik perdebatan dalam berbagai kajian dan praktis sosial, pembangunan, dan budaya. Karena hal ini masih berkaitan erat antara perbedaan gender dan ketidakadilan gender pada struktur masyarakat. Gender merupakan sebuah konstruksi sosial budaya yang berisi pembagian tugas, peran, hak dan tanggung jawab pada laki-laki dan perempuan [1]. Dengan kata lain gender bentukan dari sosial budaya,
Alamat Korespondensi Penulis: Tulus Sabrina Email : [email protected] Alamat : Universitas Brawijaya, Jl. Meyjen Haryono 169,
Malang, 65145, Indonesia

berbeda dengan kodrat berarti sebagai ketentuan biologis atau pemberian Tuhan yang tidak dapat dipertukarkan. Sayangnya, fakta dimasyarakat masih banyak kerancuan pemahaman mengenai gender dan kodrat, karena pada dasarnya konstruksi sosial (gender) tesebut diartikan sebagai kodrat (ketentuan dari Tuhan). Seperti peran mengelola rumah tangga, mendidik anak dianggap sebagai “kodrat perempuan”, padahal mengelola rumah tangga dan mendidik anak adalah bagian dari peran gender (gender role) yang sudah dikonstruksi oleh sosial budaya [2].
Adanya perbedaan gender memiliki banyak dampak seperti pembagian peran, sifat, kedudukan, dan tanggung jawab pada laki-laki

1

Pengaruh Peran Gender, Masculine Dan Feminine Gender Role (Sabrina, et al.)

dan perempuan, yang nanti dapat berakibat terjadinya berbagai bentuk ketidakadilan (diskriminasi, subordinasi, dan marjinalisasi) yang tidak hanya terjadi dalam rumah, namun juga dilingkungan kerja.
Perbedaan laki-laki dan perempuan menjadi hal yang sangat menarik sehingga seringkali membandikan laki-laki dan perempuan pada berbagai aspek, karena keberadaan laki-laki dan perempuan selalu dianggap berbeda. Dari hasil perbedaan antara laki-laki dan perempuan, tidak hanya berimbas dengan adanya dominasi jenis pekerjaan berdasarkan jensi kelamin yang juga tidak lepas dari stereotipi gender. Seperti pekerjaan yang berkaitan dengan administrasi adalah jenis pekerjaan yang didominasi perempuan, karena didominasi perempuan maka pada pekerjaan ini termasuk pekerjaan yang memerlukan peran feminin [3]. Dampak lainnya adalah perbedaan penilaian profesionalitas, komitmen pada pekerjaan antara laki-laki dan perempuan berdasarkan sifat gendernya bukan dari kemampuannya. Oleh karena itu, banyak penelitian yang membandingkan komitmen kerja antara laki-laki dan perempuan, karena perempuan dianggap memiliki upah/ gaji yang lebih rendah, serta kesempatan naik jabatan atau promosi kerja yang lebih rendah, sehingga perempuan lebih sering berkeinginan meninggalkan pekerjaannya [4]. Perbedaan komitmen kerja antara laki-laki dan perempuan diyakini berkaitan dengan perbedaan peran gender pada keduanya. Setiawati & Zulkaida [5] menyatakan bahwa orang memiliki kecenderungan peran gender maskulin memiliki komitmen lebih tinggi dalam pekerjaannya dibandingkan orang yang memiliki kecenderungan peran gender feminin, dimana peran gender maskulin seringkali disama artikan dengan laki-laki, dan feminin disama artikan dengan perempuan.
Dalam melakasan tugas tenaga administrasi mengelola berbagai pekerjaan adminsitrasi, ataupun membantu kebutuhan mahasiswa, pendidik, ataupun organisasinya. Tidak jarang, tenaga administrasi bersikap kurang maksimal dalam memberikan pelayanannya, hal tersebut bisa disebabkan karena beban kerja, masalah internal dengan pekerjaan, atau diluar pekerjaan (rumah). Hal tersebut, sering kali tidak dipahami oleh sebagian orang. Selain itu, di juga tidak dapat terlepas dari stereotip gender yang ada di tempat kerja, dan pada kondisi tertentu karakteristik peran gender (maskulin atau feminin) sering dihubungkan dengan

pekerjaannya. Seperti pada pekerjaan administrasi karena termasuk dalam jenis pekerjaan yang membutuhkan peran feminin, maka tenaga administrasi diharapkan bisa memberikan pelayanan dengan ramah, sabar, yang sesuai dengan ketentuan dari peran gender feminin. Karena apabila tidak sesuai dengan karaketeristik peran gendernya hal ini dapat menimbulkan masalah. Seseorang yang memiliki sifat peran gender yang bertentangan dengan jenis kelaminnya akan cenderung tidak disukai, seperti seorang perempuan yang memiliki sifat maskulin di tempat kerja, begitu sebaliknya [6]. Hal tersebut bisa jadi yang terjadi pada diri seorang tenaga administrasi yang cenderung bersikap tegas, ataupun dominan, akan kurang disukai. Dalam keadaan beban yang bertumpuk akan sangat berpotensi menimbulkan stres akibat peran gender maskulin/ feminin (Masculine/ Feminine Gender Role Stress), sehingga diwaktu bersamaan ketika melakukan pekerjaan, ataupun memberikan pelayanan seringkali terjadi dilakukan secara tidak maksimal dan disinyalir dapat menurunkan komitmen kerja.
Berdasarkan uraian diatas, maka penelitian ini difokuskan untuk menganalisis apakah terdapat pengaruh peran gender, masculine dan feminine gender role stress pada tenaga administrasi di lingkungan Universitas Brawijaya.
TUJUAN PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan
dan menganalisis pengaruh peran gender, masculine dan feminine gender role stress pada tenaga administrasi Universritas Brawijaya.
TINJAUAN PUSTAKA Definisi Gender dan Peran Gender
Gender merujuk pada perbedaan psikologis, budaya dan sosial yang terkait dengan laki-laki dan perempuan, berbeda dengan sex (jenis kelamin) yang menekankan pembeda antara lakilaki dan perempuan berdasarkan sifat biologisnya [7].
Gender merupakan dimensi psikologis, sosial dan budaya mengenai keberadaan dari laki-laki dan perempuan, sedangkan peran gender adalah seperangkat ekspetasi yang menentuikan bagaimana sebaiknya laki-laki dan perempuan, berperilaku, berpikir, dan merasa [8]. Hurlock [9] menyebut peran gender sebagai pola perilaku yang disetujui dan diterima oleh kelompok sosial bagi laki-laki dan perempuan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa peran gender adalah suatu
2

Pengaruh Peran Gender, Masculine Dan Feminine Gender Role (Sabrina, et al.)

set perilaku peran yang harus dilaksanakan oleh laki-laki dan perempuan yang sudah dibuat dan ditentukan masyarakat. Stereotipi Maskulin dan Feminin
Stereotipi pada gender diasosiasikan dengan laki-laki dan perempuan tidak hanya berbeda tetapi juga di inginkan secara berbeda. Matlin [1] menjelaskan stereotipi gender merujuk pada pemikiran tentang kelompok sosial, dan merupakan katagori yang luas mengenai keyakinan tentang karakteristik atau sifat laki-laki dan perempuan. Status laki-laki dan perempuan seringkali distereotipikan menurut sifat yang berhubungan dengan biologis mereka, atau yang sering disebut stereotipi maskulin (kelelakian), dan stereotipi feminin (keperempuan),[10].
Stereotipi maskulin pada laki-laki dipersepsikan sebagai perkasa, tegar, berkuasa, dominan, atletis, asertif, mandiri, memiliki kemampuan kepemimpinan, keras, rasional, percaya diri, mampu menghadapi resiko, agresi. Sedangkan stereotipi feminin mudah menyerah, lemah lembut, sabar, penyayang, sensitif, pasif, mengalah, cerewet, penuh kehanyagatan [11].
Stereotipi maskulin dan feminin mencerminkan cara kita memandang diri, terlepas dari situasi sosial tertentu, serta menjadi bagian dari kita yang mengarah pada harapan tertentu, perilaku dan sikap [12]. Dengan kata lain, stereotipi maskulin atau feminin pada seseorang akan memberikan konsekuensi tersendiri pada diri seseorang.
Seseorang akan mematuhi nilai-nilai peran gender maskulin dan feminin, justru menimbulkan stres akibat peran gender (gender role stress).
Gender Role Stress (GRS) Gender role stres adalah kondisi stres
psikologi yang diakibatkan karena tidak sesuai dengan standar maskulin dan feminin. Gender Role Stress (GRS) menandakan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki masalah beradaptasi dengan konsep maskulin dan feminin yang dilekatkan kepada mereka oleh sosial dan budaya, dengan kata lain GRS mengacu pada stres akibat kegagalan seseorang yang tidak mampu memenuhi standar peran gender [12]. Gender Role Stress (GRS) ini dibedakan menjadi dua hal yang paling penting yaitu, Masculine Gender Role Stress (MGRS) dan Femine Gender Role Stress (FGRS).
Masculine Gender Role Stress (MGRS)

Masculine Gender Role Stres (MGRS) adalah keadaan yang menimbulkan stres karena tidak sesuai standar maskulin. MGRS dikembangkan oleh Eisler & Skidmore [13]. Dalam MGRS ini terdapat 5 situasi yang disinyalir dapat menimbulkan terjadinya stres yaitu:
- Feeling physically inadequate. Situasi ini mencerminkan stres yang berhubungan dengan ketidakmampuan untuk memenuhi penampilan fisik, kebugaran maupun kejantanan sesuai dengan stereotip maskulin.
- Expressing tender emotions. Situasi ini mencerminkan stres terkait dengan mengekspresikan emosi lemah pada laki-laki, yang hal ini bertentangan dengan stereotip maskulin.
- Subordinating by women. Situasi yang mencerminkan terkait dengan berada dibawah perempuan, atau perempuan yang lebih unggul dalam pekerjaan atau olahraga.
- Being intellectually inferior. Situasi yang terkait dengan tidak mampu berpikir rasional atau secara tidak secara cerdas untuk mengatasi sebuah situasi.
- Performance failure with regard to work and sexual activities. Situasi yang berkaitan dengan kegagalan dalam memenuhi norma maskulin dalam pekerjaan maupun ketidakmampuan seksual
MGRS Scale akan digunakan pada penelitian ini untuk menilai situasi tertentu yang berpotensi timbulnya stres akibat dari kepatuhan dan keyakinan pada stereotip maskulin.
Feminine Gender Role Stres (FGRS) Feminine Gender Role Stres (FGRS) adalah
keadaan atau kondisi yang menimbulkan stres karena tidak sesuai dengan standar feminin, dikembangkan oleh Gillespie & Eisler [14]. Sementara pada Feminine Gender Role Stress (FGRS) terdapat lima situasi yang disinyalir terjadinya stres yaitu:
- Developing non emotional relationships. Situasi yang terkait dengan rasa takut untuk gagal dalam mengembangkan hubungan emosional, hubungan intim, dan kepercayaan.
- Felling physically unattractive. Situasi ini menyoroti ketakutan banyak perempuan dari segi tidak menarik secara fisik, terkait dengan standart feminin.

3

Pengaruh Peran Gender, Masculine Dan Feminine Gender Role (Sabrina, et al.)

- Being exposed to the potential harm of violence/ victimaization. Situasi ini berisi item yang mewakili situasi di mana perempuan yang rentang menjadi korban kekerasan atau kondisi bahaya, karena diyakini perempuan memilikii fisik yang lemah.
- Behaving assertively. Secara umum situasi yang membutuhkan sikap tegas dalam kondisi tertentu. Situasi ini dapat mengancam perempuan karena dianggap melanggar stereotip feminin (bersikap pasif dan tidak banyak protes).
- Not being nurturant. Situasi ini mengenai ketakutan apabila tidak mengasuh yang tidak sesuai dengan peran gender feminin tradisional.
Sama halnya dengan MGRS, FGRS Scale akan digunakan pada penelitian ini untuk menilai situasi tertentu yang berpotensi timbulnya stres akibat dari kepatuhan dan keyakinan pada stereotip feminin.
Komitem Kerja Komitmen kerja diartikan sebagai keadaan
psikologis yang menunjukkan penerimaan seseorang terhadap pekerjaannya yang telah dipilihnya serta keinginan untuk melanjutkan atau menghentikan keanggotaan pada pekerjaannya tersebut [15]. Mayer, Allen dan Smith [15] mengidentifikasi komitmen kerja menjadi tiga hal yaitu :
1. Komitmen afektif Komitmen afektif adalah bentuk komitmen dari pekerja yang akan tetap dengan pekerjaanya, karena keinginan mereka.
2. Komitmen Normatif Komitmen normatif menurut Mayer & Allen (1990) merupakan bentuk dari suatu kewajiban yang dirasakan pekerja untuk tetap dan bertahan dalam pekerjaanya.
3. Komitmen kontinuans sering kali mengacu pada komitmen bertahan untuk pekerjaannya karena analisis biaya atau harga yang harus dibayar jika meninggalkan pekerjannya.
Pengaruh Peran Gender Terhadap Komitmen Kerja
Dalam dunia kerja, masih banyak pekerjaan yang mempersyaratkan jenis kelamin dalam rekrutmen pegawai, atau masih adanya pandanya mengenai pandangan dan penilaian terhadap laki-laki dan perempuan [16]. Bahkan pada saat tertentu pada saat tertentu kesuksesan

kinerja dalam suatua pekerjaan akan dilihat dan nilai berdasarkan sifat- sifat gender (maskulin atau feminin) [17]. Penilaian laki-laki dan perempuan berdasarkan sifat gendernya bukan berdasarkan kemampuannya menimbulkan banyak ketidakadilan khusus bagi perempuan, seperti perbedaan gaji, kesempatan naik jabatan atau promosi. Ketidakadilan tersebut disebabkan dari pandangan bahwa yang berhak bekerja adalah laki-laki daripada perempuan.Berdasarkan dari pandangan tersebut, banyaknya perempuan yang bekerja masih pada pada status dan gaji yang lebih rendah, serta banyak menemui hambatan dalam meraih jabatan atau promosi pada pekerjaannya [4]. Halangan atau hambatan tersebut disinyalir berpengaruh pada komitmen kerja pada pekerja laki-laki dan perempuan. Karena pekerja perempuan lebih sering berkeinginan untuk meninggalkan pekerjaan mereka [4]. Oleh karena dari pandangan tersebut banyak penelitian yang membandingkan komitmen kerja pada laki-laki dan perempuan.
Berdasarkan dari beberapa penelitian menyatakan bahwa laki-laki memiliki kecenderungan lebih berkomitmen pada pekerjaannya dibandingkan perempuan [18], hal tersebut disebabkan karena hal ini dikarenakan kebanyakan perempuan berpikir bahwa komitmen dan identitas mereka adalah dalam peran keluarga. Setiawati & Zulkaida [5] menyatakan bahwa orang memiliki kecenderungan peran gender maskulin memiliki komitmen lebih tinggi dalam pekerjaannya dibandingkan orang yang memiliki kecenderungan peran gender feminin, dimana peran gender maskulin seringkali disama artikan dengan laki-laki, dan feminin disama artikan dengan perempuan.
Pengaruh Masculine dan Feminine Gender Role Stress Terhadap Komitmen Kerja
Voydanoff (dalam Sulistyorini [19] menjabarkan bahwa seseorang yang tidak dapat memenuhi tuntutan tiap peran maka timbulah konflik antar peran. Konflik antar peran seringkali terjadi ketika harapan dari dua peran atau lebih tidak dapat berjalan dengan seimbang dan tidak lancar. Seperti seorang perempuan yang bekerja full time, mereka cenderung tidak dapat menjadi ibu yang baik karena tidak merawat anak yang sakit, pergi ke event sekolah, separuh waktu mereka digunakan untuk bekerja, dan lain-lain. Atau pada laki-laki merasa tidak memadai melakukan tugas pekerjaan rumah atau merawat anak, hal ini inilah yang sering kali menjadi
4

Pengaruh Peran Gender, Masculine Dan Feminine Gender Role (Sabrina, et al.)

penyebab terjadinya konflik, yang dapat berpotensi terjadinya stres. Karena tidak dapat menjalankan peran sesuai dengan peran gendernya (maskulin dan feminin). Situasi ini disinyalir dapat menimbulkan stres akibat peran gender maskulin/ feminin yang dapat menurunkan komitmen kerja bagi tenaga administrasi Universitas Brawijaya.
Disisi lain, stereotipi gender yang ada dilingkungan kerja dapa menimbulkan adanya diskriminasi baik secara formal maupun informal. Seperti, seorang perempuan yang memilki sifat maskulin di lingkungan kerja, cenderung tidak disukai bahkan dapat mempengaruhi promosi jabatannya, [6]. Hal ini dikarenakan, dalam stereotipi gender terdapat sebuah set atribut dan karakter untuk menggambarkan bagaimana lakilaki seharusnya berperilaku, yang disebut sebagai stereotipi perspektif. Fungsi dari stereotipi perspektif untuk mengatur perilaku yang pantas dan tidak pantas, pada perspektif ini melarang perempuan bersikap kasar, agresif, dominan ataupun yang menunjukkan sifat- sifat dari stereotipi maskulin. Seorang perempuan harus berperilaku peduli, simpatik, atau sifat feminin lainnya. Oleh karena itu uraian tersebut juga disinyalir sebab terjadinya stres akibat peran gender maskulin/ feminin (M/FGRS) yang dapat menurunkan komitmen kerja.
METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah Explanatory
research dengan metode kuantitatif. Sedangkan dalam pelaksanaannya penelitian ini menggunakan pedekatan Cross Sectional. Populasi pada penelitian ini adalah tenaga administrasi Fakultas Ilmu Adminitrasi (FIA), Fakultas Kedokteran (FK), Program Pascasarjana (PPs) Universitas Brawijaya. Besar sampel didapatkan dengan menggunakan rumus Slovin, sebanyak 96 orang responden. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Pada penelitian ini menggunakan batasan masa kerja minimal 5 tahun dan diatasnya.
Instrumen penelitian yang digunakan pada penelitian ini yaitu:
- Personality Attribute Questionarre (PAQ) Spence dan Helmreich [20] untuk mengukur peran gender, contoh dari kuesioner PAQ ini seperti : “sangat tidak mandiri...... sangat mandiri; sangat tidak emosional..... sangat emosional; sangat tidak percaya diri..... sangat percaya diri.
- Masculine Gender Role Stress (MGRS). Contoh dari kuesioner MGRS adalah :

“Merasa kondisi fisik kurang prima...; Menjadi pengangguran....; Menikah dengan seseorang yang berpenghasilan lebih besar daripada Anda....; Tidak berpenghasilan cukup....” - Feminine Gender Role Stress (FGRS). Condoh dari kuesioner FGRS ini sperti : “Merasa tidak semenarik yang dulu...; Berat badan Anda melebihi berat badan pasangan Anda...; Bertambah tua dan masih melajang...; Kembali bekerja segera setelah melahirkan...” - Occupational Commitment Scales (OCS) yang disusun Mayer, Allen, dan Smith [15] untuk mengukur komitmen kerja. Contoh dari kuesioner OCS adalah seperti : “ Pekerjaan saya penting bagi image diri saya...; Saya tidak suka dengan pekerjaan saya...; Saya merasa bersalah jika saya meninggalkan pekerjaan saya...” Kueisoner yang digunakan pada penelitian ini menggunakan skala likert antara 1-6 titik, dan nantinya akan diuji regresi dengan menggunakan uji simultan dan parsial.

HASIL PENELITIAN
Gambaran Umum Responden Penelitian Berikut adalah uraian dari gambaran umum responden meliputi karakteristik usia, tingkat pendidikan, masa kerja, status pernikaha, dan jumlah tanggungan, pada penelitian ini sebanyak 96 responden (49 laki-laki, 47 perempuan).

Tabel 1. Distribusi Karakteristik Usia Responden

Usia Responden

Laki-Laki

f

%

26-35 tahun

28 57,1

36- 45 tahun 12 24,5

46-55 tahun

8 16,3

> 55 tahun

1 2

Total

49 100

Sumber : data diolah

Perempuan

f

%

32 68,1

13 27,7

2

4,3

-

-

47

100

Berdasarkan tabel diatas Usia responden yang paling muda dalam penelitian ini adalah 26 tahun sedangkan yang paling tua berusia 58 tahun.

Tabel 2 Distribusi Karakteristik Tingkat Pendidikan

Tingkat Pendidikan
SMA Diploma S1 S2

Laki-Laki

f

%

9

18,4

5

10,2

33 67,3

2

4.1

Perempuan

f

%

4

8,5

6

12,8

33

70,2

4

8,5

5

Pengaruh Peran Gender, Masculine Dan Feminine Gender Role (Sabrina, et al.)

Total

49

100 47

100

Sumber : data diolah

Berdasarkan pada tabel 5.2 diatas, dapat dilihat bahwa mayoritas tingkat pendidikan responden adalah S1 sebanyak 67,3% pada responden lakilaki dan 70, 2% pada responden perempuan.

Tabel 3 Distribusi Masa Kerja Responden

Masa Kerja

Laki- Laki

f

%

5 thn

10 20,4

6- 10 thn

17 34,7

11-15 thn

10 20,4

16-20 thn

7

14,3

>20 thn

5

10,2

Total

49 100

Sumber : data diolah

Perempuan

f

%

12 25,5

19 40,4

13 27,7

2

4,3

1

2,1

47 100

Batasan dalam masa kerja responden pada penelitian ini adalah responden yang telah bekerja minimal 5 tahun atau lebih. Dengan memilih batasan pada masa kerja minimal 5 tahun atau diatasnya dalam penelitian ini karena dengan masa kerja yang lebih panjang tersebut karyawan akan lebih berdaya dan memiliki banyak pengalaman dalam menyelesaikan tugasnya [21].

Tingkat Stress
Sangat Tidak Stres Sekali (STSS) Sangat Tidak Stres (STS) Tidak Stres (TS) Stres (S) Sangat Stres (SS) Sangat Stres Sekali (SS) Total

Laki-laki

F

%

-

-

-

-

5

10,2

40 81, 6

4

8,2

-

-

49 100

Perempuan

f

%

-

-

-

-

8

17

34 72,3

5

10, 6

-

-

47 100

Tabel 4 Distribusi Status Pernikahan Responden

Status Pernikahan

Laki- Laki

f

%

Menikah

44 89,8

Belum Menikah

5

10,2

Total

49 100

Sumber : data diolah

Perempuan

f

%

40 85,1

7

14,9

47 100

Berdasarkan dari tabel diatas dapat dilihat bahwa status pernikahan responden pada penelitian ini lebih banyak yang berstatus menikah sebanyak

89,8 % pada responden laki-laki, dan 85,1 % pada responden perempuan.

Tabel 5 Distribusi Jumlah Tanggungan Responden

Jumlah

Laki-laki

Tanggungan f

%

Tidak ada

3

6,1

1 Orang

3

6,1

2 Orang

16 32,7

3 Orang

16 32,7

4 Orang

8

16,3

5 Orang

2

4,1

7 Orang

1

2

Total

49 100

Sumber : data diolah

Perempuan

f

%

3

6,4

9

19,1

13 27,7

12 25,5

7

14,9

3

6,4

-

-

47 100

Dari tabel 5 dapat dilihat 6.1% pada responden laki-laki dan 6,4 % pada responden perempuan tidak memiliki tanggungan (orangtua, anak, istri, suami, maupun yang lain) sebagai tanggungan secara finansial.

Tabel 6 Rata-Rata Skor Maskulin dan Feminin Pada Responden

Jenis Kelamin
Laki- laki

Maskulin
Rata- SD Rata 33.16 3.88

Perempuan 30.97 5.45

Sumber : Data diolah

Feminin
Rata- SD Rata
33.89 5.76 34.53 5.26

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa meskipun responden laki-laki cenderung memiliki kategori maskulin tinggi, dan responden perempuan memiliki kategori feminin tinggi, namun dari hasil rata-rata reponden laki-laki disimpulkan memiliki peran gender feminin yang lebih tinggi, sedangkan responden perempuan memiliki peran gender feminin lebih tinggi

Tabel 7 Distribusi Frekuensi Variabel Masculine Gender Role Stress (MGRS) Sumber : Data diolah

Berdasarkan tabel 7 dapat diketahui bahwa tingkat stres MGRS pada responden laki-laki sebesar 81,6 %, apabila dibandingkan dengan responden perempuan tingkat stres nya 72,3 %.

Tabel 8 Rata- rata Masculine Gender Role Stress (MGRS) Pada Responden

Responden
Laki- Laki Perempuan

Rata- Rata Hasil Skor MGRS 123,8 120,8

Keterangan
Stres (S) Stres (S)

6

Pengaruh Peran Gender, Masculine Dan Feminine Gender Role (Sabrina, et al.)

Sumber : data diolah

Berdasarkan pada tabel diatas menunjukkan bahwa pada variabel Masculine Gender Role Stress (MGRS) pada penelitian ini responden lakilaki memiliki indikasi stres yang mengacu pada MGRS.

Tabel 9 Distribusi Frekuensi Variabel Feminine Gender Role Stress (FGRS)

Tingkat Stres

Laki-laki

Perempuan

f

%

f

%

Sangat Tidak Stres Sekali (STSS) Sangat Tidak Stres (STS) Tidak Stres (TS)

-

-

-

-

-

-

-

-

12 24,5 -

-

Stres (S)

31 63,3 33 70,2

Sangat Stres (SS)

6 12,2 11 23,4

Sangat Stres Sekali (SSS) Total

-

-

3 6,4

49 100 47 100

Sumber : Data diolah
Berdasarkan tabel 9 dapat diketahui bahwa tingkat stres FGRS pada responden perempuan sebesar 70,2 %, hasil dari responden perempuan lebih tinggi apabila dibandingkan dengan responden laki-laki tingkat stresnya 63,3 %.

Tabel 10 Rata- rata Feminine Gender Role Stress (FGRS) Pada Responden

Responden Rata- Rata Hasil

Skor FGRS

Laki- Laki

119,06

Perempuan

135,19

Sumber : data diolah

Keterangan
Stres (S) Stres (S)

Berdasarkan pada tabel 10 diatas menunjukkan bahwa pada variabel Feminine Gender Role Stress (FGRS) pada penelitian ini responden perempuan memiliki indikasi stres yang lebih tinggi dari pada hasil yang didapatkan dari reponden laki- laki.

Tabel 11 Distribusi Frekuensi Variabel Komitmen Kerja

Distribusi Jawaban Responden
Sangat Tidak Setuju Sekali (STSS) Sangat Tidak Setuju (STS) Tidak Setuju (TS)
Setuju (S)
Sangat Setuju (SS)

Laki-laki

f

%

-

-

-

-

2

4,1

41 83,7

6

12,2

Perempuan

f

%

-

-

-

-

1

2,1

39

83

7

14,9

Sangat Setuju Sekali

-

(SSS)

Total

49

Sumber : data diolah

-

-

-

100 47

100

Berdasarkan tabel 11 dapat diketahui bahwa hasil dari penelitian ini mengenai komitmen kerja, responden laki-laki maupun perempuan cenderung menyetujui pernyataan pada komitmen kerja. Hal ini membuktikan bahwa responden penelitian memiliki komitmen kerja yang sangat baik.

Analisis Regresi Pada penelitian ini menggunakan uji simultan
(uji F) dan uji parsial (uji t) untuk mengetahui hasil pengaruh peran gender, Masculine dan Feminine Gernder Role Stress Terhadap Komitmen Kerja. Berikut adalah hasil uji simultan pada responden.

Tabel 12 Hasil Pengujian Parameter Duga Regresi Secara Simultan

Responden
Laki- Laki Perempuan

Nilai Fhitung 4,435 1,438

Uji F Sign. uji F 0,008 0,245

Sumber: Data diolah

Adj R2

Ket.

0,228 0,091

Signifikan Tidak
Signifikan

Kriteria pengujian yang digunakan adalah tolak H0 jika nilai Fhitung > Ftabel atau nilai sig < 0,05 dan sebaliknya adalah Terima H0 jika nilai Fhitung < Ftabel atau nilai sig > 0,05. Dari Tabel 12 dapat diketahui bahwa nilai signifikansi antara reponden laki-laki dan perempuan memiliki hasil yang sangat berbeda. Pada responden laki-laki dapat diketahaui nilai signifikan 0,008. Jika dibandingan dengan =5%, sesuai dengan kriteria pengujian nilai sig < 0,05 maka 0,08 < 0,05. Selain itu, nilai Fhitung = 4,435 lebih besar dari Ftabel = 2,811. Hal ini menunjukkan bahwa keputusan yang diambil terdapat pengaruh yang signifikan antara Peran Gender (X1), Masculine Gender Role Stress (X2) dan Feminin Gender Role Stress (X3) terhadap Komitmen Kerja (Y) secara bersama-sama. Jika dibandingkan dengan =5% maka nilai signifikansi uji F tersebut lebih besar daripada . Selain itu, nilai Fhitung = 1,438 lebih kecil dari Ftabel = 2,822. Hal ini menunjukkan bahwa keputusan yang diambil adalah tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara Peran Gender (X1), Masculine Gender Role Stress (X2) dan Feminin Gender Role Stress (X3) terhadap

7

Pengaruh Peran Gender, Masculine Dan Feminine Gender Role (Sabrina, et al.)

Komitmen Kerja (Y) secara bersama-sama pada responden perempuan, dengan besar pengaruh yang disumbangkan sebesar 9,1%.
Hasil Uji Parsial (Uji T) Pada Respondne Laki-laki Pengujian parsial digunakan untuk mengeathui apakah masing-masing variabel independen (X)

secara individu memiliki pengaruh atau tidak terhadap komitmen kerja (Y). Dengan kriteria yaitu : Tolak H0 jika thitung > ttabel atau sig < 0,05
dan Terima H0 jika thitung < ttabel atau sig > 0,05.
Berikut adalah hasil uji parsial (uji t) pada responden laki-laki.

Tabel 13 Hasil Pengujian Parameter Duga Regresi Secara Parsial Pada Responden Laki-Laki

Variabel X Konstanta Peran Gender (X1) Masculine Gender Role Stress (X2) Feminin Gender Role Stress (X3) Sumber : Data diolah

B 36,252 0,326 -0,038 0,104

1. Peran Gender Berdasarkan tabel di atas diperoleh signifikansi sebesar 0,003 yang lebih kecil dari 0,05 dan nilai thitung = 3,130 < ttabel = 2,013. Pengujian ini menunjukkan bahwa peran gender berpengaruh signifikan terhadap komitmen kerja pada
responden laki-laki.

2. Masculine Gender Role Stress (MGRS) (X2) Berdasarkan tabel di atas diperoleh signifikansi sebesar 0,574 yang lebih besar dari 0,05 dan nilai thitung = 0,574< ttabel = 2,014. Pengujian ini menunjukkan bahwa Masculin Gender Role Stress (MGRS) tidak berpengaruh signifikan terhadap komitmen kerja pada responden laki-laki.

thitung

Signifikan

Keterangan

3,130

0,003

Signifikan

-0,566

0,574

Tidak Signifikan

1,769

0,084

Tidak Signifikan

4. Koefisien Determinasi Koefisien determinasi Adjusted (Adj R2) merupakan besaran yang memberikan informasi goodnes of fit dari persamaan regresi, yaitu memberikan proporsi atau presentase kekuatan pengaruh variabel Peran Gender (X1), Masculine Gender Role Stress (X2) dan Feminin Gender Role Stress (X3) terhadap Komitmen Kerja (Y) pada responden laki-laki. Berdasarkan tabel hasil pengujian parameter duga regresi secara simultan pada responden laki-laki diperoleh nilai adj R2 sebesar 22,8% . Hasil tersebut menjelaskan sumbangan atau kontribusi dari variabel-variabel bebas dalam mempengaruhi variabel Y adalah sebesar 22,8 %, sedangkan 87,2 % lainnya disumbangkan oleh variabel lain yang tidak masuk dalam persamaan ini.

3. Feminin Gender Role Stress (FGRS) (X3) Berdasarkan tabel di atas diperoleh signifikansi sebesar 0,084 yang lebih besar dari 0,05 dan nilai thitung = 1,769 < ttabel = 2,014. Pengujian ini menunjukkan bahwa Feminine Gender Role Stress (FGRS) tidak berpengaruh signifikan terhadap komitmen kerja terhadap responden laki-laki.

Hasil Uji Parsial (Uji T) Pada Responden Perempuan
Sama seperti uji parsial pada responden lakilaki, uji parsial pada responden perempuan memiliki kriteria yaitu : Tolak H0 jika thitung > ttabel atau sig < 0,05 dan Terima H0 jika thitung < ttabel
atau sig > 0,05. Berikut adalah hasil uji parsial (uji
t) pada responden perempuan.

Tabel 14 Uji Signifikansi Parameter Duga Secara Parsial (Uji t) Pada Responden Perempuan

Variabel X Peran Gender (X1) Masculine Gender Role Stress (X2) Feminin Gender Role Stress (X3) Sumber : data diolah

B -0,090 0,053 0,064

1. Peran Gender (X1) Berdasarkan tabel di atas diperoleh signifikansi sebesar 0,354 yang lebih besar dari 0,05 dan nilai

thitung -0,937 0,796 1.215

Signifikan 0,354 0,430 0,231

Keterangan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan

thitung = -0,937 < ttabel = 2,822. Pengujian ini menunjukkan bahwa peran gender tidak berpengaruh signifikan terhadap komitmen kerja pada responden perempuan.

8

Pengaruh Peran Gender, Masculine Dan Feminine Gender Role (Sabrina, et al.)

2. Masculine Gender Role Stress (MGRS) (X2) Berdasarkan tabel di atas diperoleh signifikansi sebesar 0,430 yang lebih besar dari 0,05 dan nilai thitung = 0,796< ttabel = 2,822. Pengujian ini menunjukkan bahwa Masculin Gender Role Stress (MGRS) tidak berpengaruh signifikan terhadap komitmen kerja pada responden perempuan.
3. Feminin Gender Role Stress (FGRS) (X3) Berdasarkan tabel di atas diperoleh signifikansi sebesar 0,231 yang lebih besar dari 0,05 dan nilai thitung = 1,215 < ttabel = 2,822. Pengujian ini menunjukkan bahwa Feminine Gender Role Stress (FGRS) tidak berpengaruh signifikan terhadap komitmen kerja pada responden perempuan.
4. Koefisien Determinasi Koefisien determinasi Adjusted (Adj R2)
merupakan besaran yang memberikan informasi goodnes of fit dari persamaan regresi, yaitu memberikan proporsi atau presentase kekuatan pengaruh variabel peran gender (X1), Masculine Gender Role Stress (X2) dan Feminin Gender Role Stress (X3) terhadap Komitmen Kerja (Y) pada responden perempuan. Berdasarkan tabel hasil pengujian parameter duga regresi secara simultan diperoleh nilai adj R2 sebesar 0,91. Hasil tersebut menjelaskan sumbangan atau kontribusi dari variabel-variabel bebas dalam mempengaruhi variabel Y adalah sebesar 9,1 %, sedangkan 98,9 % lainnya disumbangkan oleh variabel lainnya yang tidak dimasukkan ke dalam persamaan ini. PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penelitian ini yang menguji pengaruh peran gender, Masculine Gender Role Stress (MGRS), dan Feminine Gender Role Stress (FGRS) terhadap komitmen kerja pada tenaga administrasi Universitas Brawijaya yang telah dilakukan pengujian, berikut akan dibahas atas hasil pengujian tersebut.
1. Pengaruh Peran Gender, Masculine Gender Role Stress (MGRS), dan Feminine Gender Role Stress (FGRS) Secara Bersama-sama Terhadap Komitmen Kerja. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan
sebelumnya dari uji hipotesis yang di uji pada penelitian ini baik pada reponden laki-laki dan perempuan diperoleh hasil yang sangat berbeda jauh. Pada responden laki-laki menunjukkan adanya hasil yang memuaskan, terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel peran gender, Masculine Gender Role Stress (MGRS),

dan Feminine Gender Role Stress (FGRS) secara bersama- sama terhadap komitmen kerja pada responden laki-laki. Besar pengaruh yang disumbangkan dalam penelitian ini melalui responden laki-laki sebesar 22,8 %, hasil tersebut menunjukkan hasil yang sangat signifikan.
Hasil dari penelitian ini berbeda dengan hasil yang diperoleh dari penelitian Sulistyorini [19], yang menunjukkan tidak adanya pengaruh dari peran gender, Masculine Gender Role Stress (MGRS), dan Feminine Gender Role Stress (FGRS) secara bersama- sama mempengaruhi komitmen kerja. Hasil tersebut dikarenakan tidak ada pemisahan antara responden laki-laki dan perempuan serta jumlah responden laki-laki dan perempuan yang tidak seimbang. Sementara itu, dalam kultur sosial hubungan laki-laki dan perempuan menunjukkan hubungan yang dipisahkan dibuat berbeda satu sama lain. Hal ini sesuai dengan pernyataan Santrock [8] bahwa dalam dimensi sosial budaya dan psikologis serta mengatur bagaimana laki-laki dan perempuan bagaimana berpikir, berperilaku, dan merasa. Dari pembedaan yang dikonstruksikan oleh kultur sosial tersebutlah kemudian timbul tugas, peran, tanggung jawab yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Berdasarkan pernyataan Santrock [8] yang menjadikan dasar pada penelitian ini untuk menganalisa dengan memisahkan responden laki-laki dan perempuan.
Sayangnya, hasil signifikan tersebut hanya ditunjukkan dari hasil penilaian responden lakilaki saja. Hasil tidak signifikan yang diperoleh dari responden perempuan mengenai uji peran gender, Masculine Gender Role Stress (MGRS), dan Feminine Gender Role Stress (FGRS) secara bersama- sama mempengaruhi komitmen kerja, tidak menunjukkan hasil yang signifikan. Dari hasil uji tersebut diperoleh 9,1 % pengaruh yang disumbangkan dalam penelitian ini, itu artinya jauh lebih kecil dibandingakan dengan hasil uji pada responden laki-laki sebesar 22,8%. Hal ini bisa merujuk pada perbedaan tugas/ peran, serta tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan yang telah di bentuk secara kultur sosial. Dalam kultur sosial terdapat berbagai bentuk peran lakilaki dan perempuan yang berkembang, salah satunya peran tradisional adalah jenis peran ini masih banyak diadopsi dibanyak negara. Dengan meletakkan peran dan tanggung jawab laki-laki sebagai superior, pancari nafkah, mendominasi segala situasi [9].

9

Pengaruh Peran Gender, Masculine Dan Feminine Gender Role (Sabrina, et al.)

2. Pengaruh Peran Gender Terhadap Komitmen Kerja Hasil pengujian dari hipotesis yang kedua
yaitu pengaruh peran gender terhadap komitmen kerja pada tenaga administrasi Universitas Brawijaya. Dengan memisahkan analisa reponden laki-laki dan perempuan menunjukkan beberapa hasil yang memuaskan. Pada uji peran gender terhadap komitmen kerja pada responden laki-laki menunjukkan adanya hasil yang signifikan. Artinya, dalam penelitian ini diperoleh hasil bahwa peran gender mempengaruhi komitmen kerja pada responden laki-laki. Meskipun dalam uji peran gender pada responden laki-laki menunjukkan kecendurungan pada peran feminin (mean 33,89) lebih tinggi. Hal ini diduga tidak terlepas dari jenis pekerjaan pada responden yaitu tenaga administrasi. Mengacu pada Departement of Labor Women’s Bureau [3] pekerjaan administrasi adalah salah satu jenis pekerjaan yang membutuhkan peran feminin. Hasil yang diperoleh penelitian ini juga menyanggah hasil penelitian dari Setaiwati & Zulkaida [5] menyatakan bahwa peran gender maskulin memiliki komitmen kerja lebih tinggi, daripada kelompok yang cenderung memiliki peran gender feminin. Serta dalam penelitian ini juga mematahkan pendapat dari penelitian dari Irving, et al [4] dan Turner & Chelladurai [22] yang menunjukan tidak ada pengaruh signifikan antara peran gender dengan komitmen kerja. Meskipun dalam uji pengaruh peran gender terhadap komitmen kerja pada responden lakilaki, hal ini diduga karena kuatnya dominasi patriarki di lingkungan kerja.
Namun, hasil uji pada responden perempuan berbeda dengan hasil responden laki-laki, dari hasil uji pada responden perempuan diperoleh hasil yang tidak signifikan. Dengan perolehan hasil yang berbeda pada antara responden lakilaki dan perempuan diduga berkaitan dengan pendapat Aydin et al [19] yang mengatakan bahwa laki-laki cenderung memiliki komitmen yang lebih tinggi dibandingkan perempuan karena kabanyakan perempuan berpikir bahwa komitmen dan identitas mereka adalah dalam peran keluarga. Pendapat Aydin et al [19] tersebut menunjukkan tak lepas dari stereotipi peran gender pada laki-laki dan perempuan Williams, et al [23] mengatakan bahwa baik lakilaki maupun perempuan berpikir bahwa laki-laki lebih banyak peluang dalam pekerjaan ataupun promosi jabatan.
Berkaitan dengan pendapat Aydin et al [19] dan Williams, et al [23] mengenai komitmen

pada pekerjaan pada perempuan relatif rendah, serta tidak banyak peluang bagi perempuan dalam mendapatkan promosi jabatan, penulis tidak sepakat apabila rendahnya komitmen perempuan pada pekerjaan dikarenakan komitmen dan identitasnya adalah peran dalam keluarga, ataupun tidak adanya peluang dalam mendapatkan promosi jabatan. Karena dari hasil penelitian Sighn et al [24] dan Dixon et al [25] menemukan bahwa perempuan memiliki komitmen yang lebih tinggi dari pada laki-laki. Sama hasil tersebut maka sebenarnya perempuan dapat memiliki komitmen kerja yang yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Ketika seorang perempuan diberi kesempatan yang sama dengan laki-laki hasilnya akan sama atau bahkan akan lebih baik dari segi komitmennya pada pekerjaan [24]. Sedangakan yang terjadi pada tenaga administrasi dalam penelitian ini berdasarkan hasil penelitian adanya perbedaan peluang bagi laki-laki dan perempuan diduga menjadi sebab lain yang mempengaruhi komitmen kerja pada responden. Apabila dikaitkan dengan kewajiban dan komitmen seorang perempuan adalah dalam keluarga, perempuan yang bekerja cenderung mengalami peningkatan ketika seorang perempuan mempunyai anak atau setelah melahirkan [26]. Karena seringkali dikaitkan pada perempuan yang bekerja akan mengalami work- family conflik, karena tidak dapat menyelerasakan peran di pekerjaan dan di keluarga sehingga menurunkan komitmen pada pekerjaannya [27]. Namun, hasil dari Noonan, et al [26] membuktikan bahwa perubahan yang ada dalam keluarga dapat meningkatkan komitmen perempuan pada pekerjaannya.
3. Pengaruh Masculine Gender Role Stress Terhadap Komitmen Kerja Pengujian dari hipotesis ketiga dalam
penelitian ini menyatakan bahwa tidak terdapat pengaruh masculine gender role stress terhadap komitmen kerja. Hasil dari penelitian uji pengaruh pada Masculine Gender Role Stres (MGRS) terhadap komitmen kerja baik dari reponden laki-laki maupun perempuan hasil yang diperoleh tidak signifikan. Pada hasil yang diperoleh dari responden laki-laki nilai signifikannya 0,574, sedangkan pada responden perempuan nilai signifikannya 0,43. Hasil penelitian Sulityorini (2006) menyatakan bahwa tidak ada pengaruh Masculine Gender Role Stress (MGRS) terhadap komitmen kerja terbukti, meskipun dalam penelitian ini telah memisahkan
10

Preparing to load PDF file. please wait...

0 of 0
100%
Pengaruh Peran Gender, Masculine Dan Feminine Gender Role